Monthly Archives: May 2013

Ulang Tahun

Gambar

Siang ini saya terkejut saat membuka email. Ada kiriman dari manajemen di kantor pusat yang menyampaikan selamat ulang tahun disertai beberapa kalimat harapan akan kebaikan di masa depan. Di bawahnya terdapat catatan, karena ulang tahunnya pas hari libur, maka ucapannya dikirimkan hari ini.

Saya terharu juga. Setelah 20 tahun bekerja, baru hari ini saya mendapat ucapan selamat ulang tahun dari manajemen di kantor pusat. Saya hanya bisa berterima kasih untuk itu. Dan sebetulnya memang baru besok saya berulang tahun.

Tanggal 1 Juni 1974, 39 tahun yang lalu saya dilahirkan di kota Yogyakarta atau Jogja. Orang tua saya sebetulnya tinggal di sebuah kota kecil bernama Wates, sekitar 30 kilo meter sebelah barat kota Yogyakarata. Karena ingin anak pertamanya lahir sempurna, sejak kontrol kehamilan sampai melahirkan semuanya dilakukan di kota Jogja.

Saya mengalami masa kecil yang menyenangkan di Wates. Rumah orang tua saya bersebelahan dengan rumah kakek-nenek dari bapak. Sementara kakek-nenek dari ibu rumahnya hanya berjarak 1 kilo meter dari sana. Kakek-nenek dari bapak adalah petani yang berhasil. Anaknya tiga orang semuanya laki-laki. Bapak saya adalah anak kedua. Pakdhe dan bapak saya dikuliahkan oleh kakek, sementara paman menyelesaikan kuliahnya sambil bekerja.

Kakek dari ibu adalah seorang pegawai negeri. Jaman itu disebut priyayi. Oleh karena itu status sosial ibu saya lebih tinggi daripada bapak, walaupun untuk masalah kemakmuran tentunya kalah dibandingkan dengan keluarga bapak.

Saya tinggal di Wates sampai kelas 5 SD. Ibu, adik, dan saya menyusul bapak pindah ke Bandung pada tahun 1985. Sudah sejak tahun 1979 bapak berkarya di Bandung. Tahun 1982 bapak membeli rumah di daerah Cihanjuang, yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Bandung Barat. Bila saat di Wates saya mendapat kemanjaan yang luar biasa dari kakek dan nenek, maka sekarang kehidupan saya berubah drastis. Saya harus mulai mandiri karena bapak dan ibu bekerja. Tetapi lama-lama jadi terbiasa juga. Saya tinggal di Bandung sampai tahun 1992.

Pada tahun 1992 saya mulai merantau ke Jakarta karena mendapat pekerjaan di sana. Selama 12 tahun saya indekost di sebuah rumah sederhana di daerah Kemayoran. Saya memilih tempat itu karena biaya kost-nya murah. Jadi saya bisa menabung untuk masa depan saya. Tahun 2003 barulah saya bisa membeli rumah di daerah Bekasi dan mulai saya tempati bersama keluarga pada tahun 2004. Saat baru menikah di tahun 2002 sampai punya seorang anak, istri dan anak, saya titipkan di rumah ibu dan bapak.

Itulah cerita singkat perjalanan hidup saya selama nyaris 39 tahun dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak. Beberapa tahun terakhir ini, saat ulang tahun saya sering merenung. Apa yang sudah saya lakukan selama sekian puluh tahun kehidupan ini. Saya hanya berharap hidup saya berguna bagi keluarga dan sesama. Banyak orang menilai keberhasilan hidup dari materi, tetapi bagi saya materi bukanlah segalanya. Walaupun uang itu penting tetapi tidak ada yang bisa mengalahkan cinta. Dicintai keluarga dan sesama adalah hadiah ulang tahun terindah yang selalu menanti saya di setiap ulang tahun…

Terima kasih untuk umur yang ke 39 ini…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sakit

Image

Ini foto anak saya yang pertama, Seto, waktu dianggap sakit oleh dokter. Hari itu, pulang sekolah badannya panas dan daerah sekitar perutnya sakit. Kami segera membawanya ke rumah sakit. Kebetulan adiknya akan imunisasi, jadi sekalian ke rumah sakit. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa anak kami terkena penyakit jantung dan harus menginap di rumah sakit. Sebagai bukti dibeberkannya setumpuk kertas hasil rekaman jantung.

Maka hari itu segera terjadi kesibukan. Saya dan istri membuat jadwal jaga di rumah sakit. Saya terpaksa cuti selama beberaa hari. Orang tua kami menyempatkan datang dari luar kota dan bersedia berjaga sehingga kami bisa beristirahat di rumah. Setelah 2 hari, panas badan Seto sudah normal. Makannya pun sudah normal seperti biasa. Maka esok harinya saya menanyakan kepada dokter apakah anak saya boleh pulang. Jawaban dokter sungguh mengejutkan. Beliau meminta agar Seto tetap dirawat di rumah sakit dengan alasan jantungnya masih belum normal. Dokter malah meminta agar anak kami dibawa ke runah sakit jantung terkenal di Jakarta. Waduh… berapa lagi biaya yang harus kami keluarkan. Saya berkeras membawa anak saya pulang. Dan setelah berdebat, dokter mengalah, tetapi masih meminta saya menandatangani pernyataan untuk menanggung segala sesuatunya bila keadaan anak saya tidak membaik.

Keputusan sudah bulat dan kami akan membawa anak kami pulang. Ternyata proses kepulangan anak kami dipersulit. Setelah adu argumen dan beberapa kali memuntahkan emosi barulah kami bisa pulang. Ternyata anak kami sehat-sehat saja setelah pulang ke rumah. Kemudian dia bercerita bahwa sebelum sakit sempat jajan di sekolah. Kami jadi berpikir, jangan-jangan anak kami hanya mengalami masalah di perutnya dan kemudian badannya menjadi panas.

Ibu saya (nenek Seto) justru yang kurang puas dengan keputusan kami. beliau memaksa agar Seto dibawa ke Paranormal di daerah Purworejo saat ada kesempatan nanti. Maka saat libur sekolah kami beramai-ramai membawa Seto ke tempat praktek paranormal ini. Ilmu yang dipakai adalah magnetisme. Beliau mampu mendeteksi medan magnet yang kurang baik dan bisa membuat alat penangkalnya agar medan magnet yang kurang baik ini bisa berbelok arah atau terbuang.

Sampai di sana kami antri sebentar. Saat tiba giliran kami beramai-ramai masuk. Ternyata di dalam ada beberapa asisten yang melayani pasien. Segera anak kami diperiksa. Kami jelaskan bahwa menurut dokter anak kami diduga memiliki penyakit jantung. Maka sang asisten itu bermeditasi sebentar, kemudian memegang sebuh pulpen dengan ujung jari dan mengangkatnya sedikit  di atas meja. Setelah beberapa menit, dia membuka mata, melihat anak kami dengan serius dan bertanya lagi mengenai penyakit anak kami. Sekali lagi ia bermeditasi, mengangkat pulpen dengan  ujung jari, dan setelah beberapa menit menghentikan meditasinya.

“Anak ini tidak apa-apa, sehat sekali. Kalau anak ini sakit, pulpen yang saya pegang sudah bergoyang-goyang tadi. Semakin keras bergoyang, semakin parah sakitnya. Tapi tadi pulpen ini tidak bergerak sama sekali bukan!” katanya dengan heran. Plong… akhirnya kami sekeluarga. Ternyata anak kami sehat.

Saya tidak menganjurkan untuk tidak mempercayai dokter dan lebih percaya pada paranormal. Tetapi menggabungkan kedua hal itu mungkin lebih baik karena bisa saja salah satunya tidak tepat atau salah melakukan diagnosa.

Anda setuju?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Baiyun Airport

Gambar

Foto di atas adalah restoran di salah satu sudut terminal domestik bandara Baiyun di kota Guangzhou. Saat itu saya dan teman-teman sedang transit dari Jakarta hendak menuju ke kota Xian di China tengah. Guangzhou sendiri berada di China sebelah selatan. Penerbangan dari Asia selatan atau tenggara biasanya transit di bandara ini. Itulah sebabnya kita bisa bertemu dengan berbagai bangsa dunia di sini, termasuk orang Indonesia dalam jumlah yang agak banyak.

Bandara ini besar sekali. Saat baru turun di terminal Internasional, kami setengah berlari menuju terminal domestik karena takut tertinggal pesawat. Inipun masih memakan waktu setengah jam. Untunglah ternyata maskapai penerbangan yang akan membawa kami ke Xian mengumumkan keterlambatan keberangkatan. Jadilah kami akan siang dulu di sana.Sebenarnya di sana disediakan mobil listrik untuk mengantar penumpang yang bepergian antar terminal. Tetapi harus membayar 10 yuan atau sekitar Rp. 13.000,-. Kami yang berusaha berhemat dengan uang perjalanan dinas yang tidak terlalu banyak memilih jalan kaki. Satu hal yang kami sesali pada akhirnya.

Pemeriksaan imigrasi di bandara Baiyun cepat dan efisien, padahal petugasnya masih muda-muda. banyak sekali tempat pemeriksaan yang disediakan. Saya hitung paling tidak 3 kali lipat dari yang berada di Bandara Soekarno-Hatta. Demikian pula dengan suhu tubuh yang otomatis terperiksa saat kami melewati semacam gerbang detektor. Maklumlah saat itu efek penyakit SARS masih nyaring terdengar.

Saat hendak masuk ke ruang tunggu, kami harus kembali melalui detektor dan barang-barang kami melalui scanner. Ternyata korek api, gunting, bahkan gunting kuku pun tidak boleh lewat dan harus dibuang di tempat sampah yang sudah disediakan. Begitu pula dengan laptop. Baterai dan laptopnya harus dimasukkan scanner secara terpisah. Saya tidak tahu maksudnya. Mungkin pernah ditemukan bahan peledak dalam baterai laptop. Saya jadi merasa bahwa di China lebih aman.

Secara umum suasana di bandara mirip dengan di Indoensia. Orang-orang yang berkomunikasi dengan suara keras, suasana berisik, pramuniaga toko yang berdiri di depan etalase sambil menawarkan barang yang dipajang. Tapi yang membuat kami merasa lebih nyaman adalah banyaknya pramuniaga dan petugas bandara yang bisa berbahasa Inggris dengan lancar.

Saya lupa menceritakan tentang makanan yang kami santap di restoran dalam foto di atas. Tadinya saya mau pesan mie kuah. Pasti rasanya lebih enak karena memakai daging babi. Tetapi ternyata teman teman maunya makan nasi kari saja yang aman. Terpaksalah saya menurut. Tapi saya tidak menyesal. Nasi karinya benar-benar enak dan sesuai dengan lidah orang Indonesia.

Itulah cerita sekilas tentang bandara Baiyun di kota Guangzhou. Saya ingin sekali waktu mengunjunginya lagi.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Naik pesawat

Gambar

Gambar di atas adalah anak saya yang pertama. Namanya Seto. Saat itu umurnya 10 tahun dan sedang mabuk udara di atas pesawat yang membawanya menuju Bandung. Sebenarnya ini adalah kedua kalinya dia naik pesawat terbang. Pertama kali naik pesawat terbang umurnya baru sekitar 5 tahun dan dia ketakutan setengah mati saat pesawat terbang bergoyang-goyang menembus awan. Ia tidak mau duduk sendiri dan minta dipangku ibunya sepanjang perjalanan.

Penerbangan Jakarta-Bandung dari bandara Halim Perdana Kususma memang agak menakutkan di musim hujan. Apalagi kalau penerbangannya sudah sore. Wah… semakin menyeramkan saja. Sepanjang perjalanan yang berlangsung sekitar setengah jam itu penuh dengan goncangan karena menabrak awan-awan yang bertebaran.

Waktu masih kaya (saya sering menyebut periode pra-krismon sebagai masa-masa kaya), penerbangan Jakarta -Bandung vv adalah langganan saya. Disamping mendapat tiket dengan discount 90% tiga kali setahun, saya juga tidak berkeberatan sesekali membeli tiket karena harganya masih saya anggap murah saat itu, yaitu sekitar Rp. 60.000,00. Maka saya pun hafal jalur tersebut termasuk waktu terbaik untuk naik pesawat menghindari goncangan turbulensi.

Dalam pesawat itu saya sering bertemu orang-orang beken di negeri ini. Salah satu yang sering bertemu adalah Harry Rusli. Rupanya beliau mengajar di Jakarta. Berangkat dari Bandung pagi hari dan pulang ke Bandung pada sore hari. Penampilannya yang khas dengan pakaian hitam-hitam membuatnya menjadi perhatian tersendiri.

Sewaktu sudah berkeluarga. Saya pun ingin membawa kleuarga merasakan pengalaman naik pesawat terbang. Sudah dua kali saya melakukannya. Foto Seto di atas adalah perjalanannya yang kedua. Seperti biasanya di musin hujan, perjalanan Jakarta-Bandung selalu bergoyang-goyang. Rupanya dia mabuk dan menutup mukanya dengan alas kepala, sementara adiknya yang berumur 3 tahun malah menikmati goyangan demi goyangan itu. Pada perjalanan pulang dari Bandung, ternyata cuaca cerah sehingga Seto sangat menikmati perjalan itu. Setelah turun dia tertawa lebar dengan puasnya sementara adiknya malah cemberut dan marah-marah. Ternyata adiknya kecewa karena pesawatnya nggak goyang-goyang kayak saat berangkat ke Bandung. Mengelikan juga, ya…

Sayangnya, sekarang perjalanan udara Jakarta-Bandung vv sudah tidak ada lagi karena kalah oleh jalan tol Cipularang. Memang ongkosnya menjadi tidak sebanding  dengan waktu tempuah yang dilalui. Tetapi setidaknya saya sudah membawa keluarga saya menikati jalur penerbangan penuh goyangan ini…

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kemalingan

GambarSaya pernah memiliki sepeda motor bebek berwarna hitam. Saya membelinya tahun 2000 sebelum menikah dengan uang tabungan yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Jadi waktu pacaran saya selalu menggunakan sepeda motor ini. Saat bulan madu, saya dan istri mengendarai sepeda motor ini dari Bandung ke Jogja dan menghabiskan waktu selama seminggu di sana. Ketika menempati rumah baru di tahun 2004, sepeda motor inipun tetap setia menemani.

Pada suatu hari, setelah bekerja seharian saya merasa sangat lelah. Setelah memasukkan sepeda motor ke dalam rumah, sayapun segera tertidur bersama istri dan anak kami. Tidak ada firasat atau perasaan apapun malam itu. Pagi harinya saya terbangun mendengar teriakan istri karena atap rumah di atas ruang tamu bolong dan pintu depan terbuka. Segera saya bangun dan melihat tempat di mana saya letakkan sepeda motor. Ternyata benar… sepeda motor itu sudah lenyap. Saya segera melapor ke ketua RT dan beliau segera menghubungi polisi. Tak lama polisi tiba dan segera melihat tempat kejadian. Mereka meminta agar saya datang ke kantor polisi untuk membuat laporan kehilangan. Sebenarnya saya malas berurusan dengan polisi, tetapi karena takut sepeda motor saya disalahgunakan untuk berbuat kejahatan, maka saya datangi juga kantor polisi pagi itu.

Di sana laporan saya segera diproses. Setelah selesai membuat laporan saya dimintai uang, padahal di belakang pak polisi itu ada tulisan besar-besar “Pelayanan tidak dipungut biaya”. Saya juga diminta untuk melaporkan  hal ini ke bagian reserse di lantai 2. Saat menuju lantai 2, ada polisi yang memanggil dari bawah tangga dan menawarkan untuk mengurus masalah asuransinya. Saya katakan bahwa sepeda motor saya sudah berumur 6 tahun dan dibeli tunai.

Di lantai 2 kembali saya diwawancarai oleh pak reserse. Saya ceritakan bahwa yang hilang bukan cuma sepeda motor tetapi juga helm dan kunci rumah. Mendengar itu pak reserse terbelalak dan berkata dengan seriusnya. “Saran saya pak… bapak harus segera mengganti kunci rumah.” Saya cuma membatin, ya iya lah. Mau saya kunci pakai apa rumah saya nanti malam.

Para tetangga yang mengetahui kejadian ini mendatangi kami, tetapi mereka malah sepertinya menyalahkan kami dengan mengatakan bahwa kami lalai. Jengkel juga mendengar komentar-komentar mereka. Orang lagi susah kok malah dicela.

Malam harinya, 2 orang teman medatangi rumah kami. mereka bertamu karena mendengar bahwa kami sedang mengalami musibah. Mereka mendengarkan cerita kami dengan penuh perhatian. Setelah selesai, mereka menghibur kami dengan kalimat-kalimat yang bernada optimisme dan mengakhiri kunjungan dengan mengajak berdoa bersama. Walaupun mengalami musibah, tetapi kami mendapat pelajaran hidup yang sangat berarti.

Sekarang, menurut anda, siapakah yang paling menolong hidup anda di saat sulit ini. Para polisi yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Atau tetangga yang berebut menyalahkan dan menghakimi kami? Atau 2 orang teman yang mendatangi kami dengan penghiburan dan doa?

Ternyata yang dibutuhkan orang saat mengalami musibah adalah hiburan dan doa, bukan penghakiman…

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Crimson Tide

Gambar

Crimson Tide adalah sebuah film action dengan latar belakang ancaman perang nuklir dari bekas negara Uni Soviet. Kekacauan politik saat itu membuat beberapa pihak dapat mengawali terjadinya sebuah serangan nuklir. Untuk menghadapi hal itu, sebuah kapal selam nuklir disiagakan untuk berpatroli di lautan. Bila diperlukan, kapal ini akan melakukan serangan awal untuk melumpuhkan lokasi peluru kendali (rudal) nuklir di Uni Soviet. Serangan ini menungu perintah dari Presiden Amerika Serikat. Dalam pembukaan film disampaikan bahwa ada 3 orang paling berkuasa di dunia karena mampu meluncurkan rudal nuklir, yaitu Presiden Uni Soviet/Rusia, Presiden Amerika Serikat, dan Kapten kapal selam nuklir Amerika Serikat.

Yang  menarik bagi saya dalam film ini adalah konflik manajemen antara Kapten kapal dan Perwira Pelaksana atau Executive Officer (XO) di kapal selam ini. XO adalah orang kedua di kapal selam yang harus mengulangi setiap perintah dari kapten kapal. Bila XO tidak mengulangi perintah dari Kapten, maka perintah trersebut dianggap tidak sah.

Dikisahkan bahwa Kapten kapal ini adalah seorang yang berpengalaman tempur sehingga sangat dihormati anak buahnya dan nyaris dianggap manusia setengah dewa. Ia sering berganti XO, karena jarang ada XO yang kuat bertahan bekerja sama dengannya. Di sisi yang lain, sang XO digambarkan sebagai seorang perwira yang cerdas tetapi belum banyak pengalaman dalam perang sebenarnya. Jadi, dari latar belakangnya saja sudah terliahat kontradiksi. Sang Kapten digambarkan sebagai perwira generasi masa perang dingin sementara sang XO adalah gambaran perwira setelah masa perang dingin. Ke-ngotot-an sang Kapten sudah terlihat sejak mereka pertama kali bertemu untuk wawancara. Seolah-olah dia bukanlah orang yang bisa salah. Sementara sang XO selalu bisa menjawab jebakan-jebakan dari Kapten dengan penjelasan yang cerdas dan meyakinkan.

Maka berlayarlah kapal itu dan dimulailah konflik yang sebenarnya. Kapten memimpin dengan gaya diktator sedangkan XO-nya memimpin dengan gaya manajemen modern yang memukau. Kesetiaan awak kapal pun terpecah menjadi dua. Ada yang setuju gaya lama seperti yang ditunjukkan sang Kapten, tetapi ada pula yang lebih suka gaya manajemen modern yang dibawa sang XO. Puncak konflik adalah saat XO mengambil alih komando kapal karena Kapten sudah tidak lagi menuruti aturan dengan mengedepankan intuisi saat mengambil keputusan utnutk meluncurkan rudal nuklir. Kapten dikurung dalam kamarnya. Sebagian awak kapal tidak menyetujui cara ini. Mereka adalah loyalis Kapten. Mereka merencanakan pemberontakan dan berusaha membebaskan Kapten agar kembali memimpin kapal. Rencana ini berjalan. Bergantilah sang XO yang harus mendekam dalam kabin bersama beberapa perwira yang setuju dengan pendapatnya.

Rupanya di saat genting ini ada beberapa bintara yang setia kepada sang XO. Mereka bergerak pelan-pelan membebaskan sang XO beserta perwira-perwira yang dikurung bersamanya. Mereka menuju anjungan (bridge) tempat komando kapal berada. Berhadapan muka antara Kapten dan XO seperti dua orang penjudi yang bertaruh hidup dan mati. Perjudian akhirnya berakhir dengan kemenangan sang XO yang berusaha menuruti peraturan. Kapten tertunduk, menyerahkan kendali ke XO dan mengurung diri di kamarnya. Disini terlihat kebesaran hati XO untuk tetap memuliakan derajat Kapten. Walaupun saat di atas angin Kapten sering memojokkannya dengan kata-kata yang tidak pantas, bahkan sampai memukulnya, tetapi ia berbesar hati saat dan tetap menjadikan dirinya seorang XO. Ia tidak ingin membalas dendam dan membuat derajat Kapten menjadi rendah di hadapan anak buahnya.

Di akhir patroli, mereka berdua disidang oleh dewan militer karena konflik yang mereka alami dan lakukan berhubungan dengan kemampuan meluncurkan rudal nuklir. Pada akhirnya Kapten menyadari bahwa ia tidak selamanya benar. Ia mengajukan pengunduran diri dengan hormat dan memberikan rekomendasi kepada agar sang XO ditunjuk menggantikannya menjadi kapten kapal. Hal ini seperti menunjukkan bahwa ilmu manajemen adalah ilmu yang dinamis dan berubah seiring berjalannya waktu.

Film diakhiri dengan Kapten yang berlalu seolah menyongsong masa pensiunnya dan XO yang memandang dari kejauhan sampai bayangan Kapten hilang ditelan cakrawala.

Sungguh film ini adalah pelajaran manajemen konflik yang sangat baik dan disampaikan dengan cara yang memukau.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Senang Kereta Api

Gambar

Anak saya yang nomor 2 ini sangat suka dengan kereta api. Mainannya di rumah kebanyakan kereta api. Buku-buku yang dibelinya kebanyakan juga tentang kereta api. Bahkan saat menjelang tidurpun, maunya didongengi kereta api. Padahal kakaknya tidak suka dengan kereta api. Hobi yang sering dilakukan anak saya yang kedua ini adalah menonton kereta api yang lewat di stasiun. Kebetulan rumah tempat tinggal kami hanya berjarak 2 kilometer dari stasiun. Jadilah kalau libur saya menemani anak saya nongkrong di stasiun selama berjam-jam.

Melihat kereta api memang menarik. Suara lokomotifnya yang menderu, getaran yang ditimbulkan saat lewat, dan hembusan angin kencang saat rangkaian kereta api berlalu memang memiliki pesona tersendiri. Anak saya pun senang dengan semua itu. Dia bahkan tidak pernah takut walaupun sering kaget dengan suara klaksonnya.

Suatu hari saya mengajak anak saya naik kereta listrik. Kami tidak memiliki tujuan ke manapun. Hanya ingin naik kereta listrik. Karena hari libur, kereta tidak terlalu penuh sehingga anak saya bisa menikmati perjalanan ini. Tak bosan-bosannya dia melihat keluar jendela dan selalu diselingi pertanyaan tentang semua yang dilihatnya.

Di waktu yang lain kami sekeluarga mengunjungi orang tua di Bandung dengan kereta api. Wah… anak saya yang nomor 2 senang sekali. Sementara kakaknya sudah bosan karena tidak segera sampai, dia malah mengajak berjalan-jalan di dalam gerbong dari ujung ke ujung. Saat kereta api sampai di stasiun Bandung, dia malah kelihatan sedih dan tidak mau segera pergi karena masih ingin melihat kereta api.

Foto di atas adalah tempat nongkrong kesukaannya. Gerbong datar yang sedang diparkir di pinggir stasiun dan kebetulan berada di bawah pohon. Dari situ dia bisa melihat kereta api saat masih di ujung kelokan rel dan kemudian menatapnya sampai hilang di kejauhan. Dengan berbekal minuman botol yang dibeli di Indomaret, dia betah sekali nongkrong di atas gerbong datar itu. Menunggu pengumuman dari stasiun, kereta apa yang akan lewat, dan rel nomor berapa yang akan dilewati. Dia hapal nomor jalur rel di stasiun itu. Bila kebetulan rel yang akan dilewati bersebelahan dengan gerbong datar yang ditongkronginya, maka dia akan segera bersiap menutup telinga. Lama-lama saya jadi betah juga menemani anak saya ini..

Dari cerita di atas saya semakin menyadari bahwa seringkali kebahagian seorang anak itu tidak diukur dengan materi atau mahalnya mainan yang dimiliki. Bukankah menemani anak menonton kereta api di stasiun itu murah dan menyenangkan?

2 Comments

Filed under Uncategorized