Etika Berlalulintas

Gambar

Hampir setiap pagi saya mengantar anak ke sekolah. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2 kilometer. Makanya nganter sekolahnya beramai-ramai. Istri dan anak saya yang kecil pasti ikut. Kadang-kedang pakai mobil, tapi lebih sering pakai motor. Kira-kira gambarannya seperti foto di atas.

Begitu mulai memasuki jalan raya, mulailah terlihat jalan yang seperti rimba belantara. Seolah tidak ada aturan. Siapa kuat (kuat malu maksudnya) akan mendapat jalan. Sedangkan yang taat peraturan, malah tersingkir dan tersisih. Mungkin istilah Jawa “Sing waras ngalah” benar-benar berlaku di sini.

Jalan yang nyaris dipenuhi sepeda motor terdengar riuh oleh suara klakson dan umpatan. Saya pernah membaca sebuag blog dari Inggris berjudul Big Lorry Blog. Blog ini menceritakan perjalanan penulisnya mengenai truk dari seluruh dunia. Di Indonesia, tempat yang dikunjungi adalah Makasar di Sulawesi Selatan. Penulis blog ini mengikuti perjalanan truk ke Sulawesi Tengah dan menangkap kesan yang sama dengan saya. Jalanan riuh dengan suara klakson dan umpatan pengendara sepeda motor.

Beberapa waktu yang lalu polisi mewajibkan pengendara sepeda motor untuk menyalakan lampu besar saat sedang berkendara dengan alasan untuk mengurangi kecelakaan. Bagi saya hal ini tidak berguna karena masalah berlalu lintas adalah masalah etika. Saya mengadalan survey kecil-kecilan dan menyimpulkan 3 hal mengenai sebagian besar pengendara sepeda motor di Indonesia.

Pertama, saya yakin bahwa sebagian besar pengendara sepeda motor di Indonesia tidak memiliki SIM. Bahkan tetangga saya yang seorang istri polisi pun dengan bangganya mengatakan bahwa ia tidak memiliki SIM. Padahal hampir setiap hari berjalan-jalan dengan sepeda motornya di jalan raya

Kedua, pengendara sepeda motor di Indonesia lebih senang membunyikan klakson daripada menginjak/menekan rem. Bila ada halangan di depan, pasti langsung membunyikan klakson. Bila halangan di depan tidak juga bergerak, sudah terlambat untuk menginjak rem… dan…. grobyak…. terjadilah insiden.

Ketiga, pengendara sepeda motor selalu ingin berjalan di tengah dan tidak mau di pinggir, padahal jalannya pelaaannnnn…. Mungkin mereka ingin bersaing dengan mobil-mobil yang mereka anggap sebagai saingan abadi.

Kadang saya putus asa melihat kegilaan para bikers ini. Sudah salah, ngotot lagi. Pantaslah kalau negara kita tercinta ini kacau balau. Seorang pakar lalu lintas dari Jepang pernah berkata “Cara penduduk suatu negara berlalu lintas mencerminkan kondisi negaranya.” Saya tidak lain daripada harus setuju dengan pendapat ini. Tapi sebagai seorang yang optimis, saya mencoba mulai mendidik generasi penerus, mulai dari anak-anak saya untuk taat pada aturan dan etika berlalu lintas.

Bagaimana dengan anda?

See you inthe next post…

Advertisements

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Etika Berlalulintas

  1. Agus Supriyadi

    Lha mas … kok gak pakai helm ?
    semuanya ga pakai helm …
    Kasian lho … kok malah mendidik anak-anak untuk tidak beretika mengendarai motor 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s