Makanan dan Pola Makan

Gambar

Seorang tetangga keturunan Tionghoa pernah bercerita bahwa wanita-wanita di China itu cantik dan sexy. Saat itu saya hanya tertawa mendengarnya karena saya anggap ndobos. Ndilalah pada suatu hari, saya ditugaskan oleh perusahaan untuk berkunjung ke kota kecil bernama Yanliang, kira-kira 40 kilometer sebelah utara kota Xi’an. di China tengah. Ternyata benar, wanita di sana memang cantik dan sexy. Sulit untuk membedakan apakah wanita itu sudah memiliki anak atau masih gadis. Apalagi saya datang pas musim panas. Mereka memakai baju warna-warni yang indah. Tetapi tahukah anda bahwa kemolekan wanita di China berhubungan dengan pola makan mereka?

Selama tiga minggu saya berada di Yanliang dan selama itu pula saya perhatikan bahwa penduduk di sana tidak menyukai gula. Bila minum teh, pasti tanpa gula. Minum kopi nescafe sachet saja tidak pakai gula, bayangkan kayak apa rasanya coba… Sebenarnya porsi makan mereka besar. Saya dan beberapa teman sering melihat mereka makan semacam mie ayam dengan mangkok yang besar. Sampai seorang teman berkata. “Wah, ini sih bukan mangkok, tapi baskom…” Tetapi, walaupun porsinya besar, rata-rata makanan berkuah di Yanliang rasanya pedas dan asam. Mirip empek-empek, tetapi lebih pedas dan lebih asam. Mungkin ini juga yang membantu membuat bentuk badan mereka menjadi ideal.

Walaupun memiliki pola makan yang cukup baik, tetapi ada juga kesukaan mereka yang agak kurang cocok bagi saya dan teman-teman. mereka suka dengan minuman beralkohol. Mereka itu minum bir sudah seperti kita minum air putih saja. Ada lagi yang namanya Maothai, semacam arak. Warnanya bening seperti air, tetapi baunya wangi. Kalau minum Maothai, harus langsung ditelan. Kalau dirasakan dulu di lidah pasti tersedak karena kadar alkoholnya saya dengar sampai 45%. Begitu melewati mulut, mengalir di tenggorokan dan berhenti di perut, rasanya seperti menelan bara api. Mungkin ini cocok dengan hawa malam di Yanliang yang cukup dingin, rata-rata 16 derajat Celcius di musim panas.

Selama di Yanliang, hampir setiap malam ada undangan makan malam. Suasananya seperti pada foto di atas. Kami dan pengundang mengelilingi sebuah meja bundar dan selalu diawali dengan “toast” Maothai dalam sloki. Baru setelah itu disajikan makanan utama yang selalu panas. Rupanya menyajikan makan dalam keadaan panas adalah suatu bentuk penghormatan kepada tamu. Sebetulnya makanan di China tengah agak lain dengan masakan China yang kita kenal. Tetapi rasanya masih cukup enak di lidah kami. Karena selalu diawali dan diakhiri dengan minum alkohol dalam jumlah yang “over”, maka setiap kali selesai mengikuti undangan makan malam, kami pulang bergandengan tangan. Bukan karena ingin terlihat akrab, tetapi karena mabuk dan jalan sudah sempoyongan, kami bergandengan tangan supaya tidak ambruk di jalan.

So, kalau ingin memiliki bentuk badan yang ideal, mungkin pola makan penduduk Yanliang di atas bisa diikuti, tetapi untuk bagian yang beralkohol, jangan sampai “over” tentunya.

Lain kali akan saya sambung cerita mengenai kunjunagn ke Yanliang dan Xi’an…

See you in the next post…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s