Arti Rumah Bagi Rakyat

Gambar

Rumah sangat berarti bagi rakyat Indonesia. Tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol status, tabungan masa depan, persiapan untuk warisan, dan mungkin juga sebagai jaminan hutang. Oleh karena itu harga rumah semakin liar tak terkendali karena hukum ekonomi “permintaan dan penawaran”. Tempat semakin terbatas, sementara permintaan terus naik membuat harga rumah semakin tidak masuk akal.

Saya sendiri sudah menyadari pentingnya memiliki rumah semenjak mulai bekerja. Karena saat itu pun harganya sudah tidak terjangkau, maka saya harus menabung. Setelah sekitar 3 tahun, ibu saya menawari untuk membeli rumah di saerah Sumedang. Tanpa berpikir 2 kali, saya segera mengatakan “ya”, padahal saya bekerja di Jakarta. Untungnya tabungan saya cukup untuk membayar uang muka, dan gaji saya pun sudah mencukupi untuk membayar cicilan bulanannya selama 15 tahun. Saya tidak ambil pusing, apakah nantinya rumah itu akan saya tempati atau tidak. Yang penting saya harus menyelamatkan tabungan saya dari gerusan inflasi dengan “menabung” dalam bentuk rumah.

Setelah menikah dan punya anak, saya mulai berpikir lagi untuk memiliki rumah di sekitar Jakarta. Sampai anak saya berumur setahun, keluarga saya titipkan di rumah orang tua di Bandung. Lama-lama kok nggak enak juga cuma bertemu seminggu sekali. Maka saya mulai bergerilya mencari rumah dan menemukan di daerah Bekasi, dekat stasiun. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Pertama, karena harganya murah (tentunya masalah kualitas sebanding dengan harga). Kedua karena dekat dengan stasiun, jadi masalah transportasi tidak akan terlalu menyulitkan. Saya kemudian mengumpulkan uang tabungan, istri juga mengumpulkan uang yang sempat ditabungnya sewaktu masih bekerja, ditambah dengan uang sumbangan sewaktu kami menikah, rupanya cukup untuk membeli secara tunai. Walaupun masih harus direnovasi di sana-sini, setahun kemudian saya memboyong keluarga untuk menempati rumah ini. Memang lebih nyaman di rumah sendiri. Home sweet home.

Melihat perkembangan saat ini, pada akhirnya mau tidak mau memang hunian vertikal akan menjadi pilihan. Kesulitan memperoleh lahan pada akhirnya menjadikan apartemen atau rumah susun andalan pemukiman masa depan. Memang banyak yang masih belum “rela” tinggal di hunian vertikal, karena hanya bisa dimiliki pada jangka waktu tertentu, biasanya seumur hak guna bangunan (HGB) tanah yang ditempati. Jadi tidak bisa dijadikan warisan bagi anak cucu. Mungkin masih perlu waktu bagi rakyat Indonesia kebanyakan untuk mengubah persepsi bahwa warisan itu bukan hanya berbentuk rumah dan tanah.

Masih banyak orang berkecukupan yang membeli rumah untuk simpanan semata, sementara lebih banyak lagi orang yang sebetulnya membutuhkan tempat tinggal tidak mampu membeli karena terbentur besarnya uang muka pembelian. Kapitalisme seringkali tidak berpihak pada golongan bawah. Tabungan dalam bentuk rumah memang sangat menguntungkan. Saat ini setelah berumur hampir sepuluh tahun, nilai rumah standar di sekitar tempat saya naik sekitar 600%. Artinya setiap tahun nilainya naik sekitar 60%. Di mana lagi anda bisa menabung seperti itu?

Kebijakan pemerintah DKI Jakarta untuk membuat rumah susun dan memberikan prioritas kepada masyarakat bawah untuk menempati saya anggap sangat baik. Sistem sewa adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan sistem beli, mengingat umur bangunan yang terbatas. Mudah-mudahan akan semakin banyak orang yang dapat tinggal di tempat yang layak, walaupun hanya menyewa kepada pemerintah dan bukan memiliki.

See you in the nest post…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s