Mengejar Kereta

Gambar

Saya adalah pelanggan kereta api Parahyangan sejak tahun 1997 sampai dengan tahun 2004. Seminggu sekali saya pulang ke rumah orang tua di Bandung dari tempat kost di daerah Kemayoran. Saya sampai punya beberapa tukang ojek langganan yang hafal jadwal kedatangan saya di stasiun Gambir.

Saat masih bekerja dengan sistem shift, saya akan mendapat libur setelah menjalani shift malam. Artinya waktu pulang di pagi hari, saya tidak kembali ke tempat kost tetapi langsung menuju stasiun Gambir untuk pulang ke Bandung. Supaya bisa mendapat kepastian tempat duduk, saya selalu memesan tiket kereta api seminggu sebelumnya untuk keberangkatan pukul 08.15 pagi. Jam kerja saya di kantor di area bandara berakhir pukul 07.00 pagi. Saya pulang naik bis kemputan karyawan yang lewat di daerah Kemayoran. Setelah itu disambung dengan bajaj ke stasiun Gambir. Jadi masih ada waktu untuk mengejar kereta api.

Hari itu seperti biasa saya pulang dan menunggu kedatangan bis jemputan. Agak lama menunggu, akhirnya pukul 07.10 terlihat bis jemputan dari kejauhan. Karyawan yang ingin segera pulang berebut masuk bis dengan tidak sabar. Tetapi sopir bis terlihat kebingungan. Ternyata tiket tol-nya tertinggal di pool kendaraan. Jadi nanti harus mampir dulu ke pool untuk mengambil tiket tool. Apes, pikir saya. Mudah-mudahan masih terkejar keretanya.

Walaupun penuh dengan kegelisahan, akhirnya bis jemputan sampai juga di daerah Kemayoran pukul 08.00 tepat. Saya masih harus meneruskan perjalanan dengan naik bajaj ke stasiun Gambir. Saya segera mencegat bajaj yang lewat, sedikit tawar menawar dan naiklah saya ke dalam bajaj yang akan membawa ke stasun Gambir.

Pepatah mengatakan bahwa sekali sial, maka seharian itu akan sial. Hal ini benar-benar terbukti. Rupanya si sopir bajaj masih baru dan belum terlalu mengenal jalanan ibu kota. Setiap kali ada pertigaan atau perempatan, pasti bertanya dulu harus mengarah ke mana. Setiap kali didahului bus yang melaju kencang, dia akan segera mengerem dan menepikan bajaj-nya sambil berkata, “Serem, pak!”.

Saya panik setengah gila. Kalau tertinggal kereta jam 08.15, saya akan rugi 2 kali. Pertama tiket kereta hangus, kemudian saya harus membeli lagi tiket kereta dengan jadwal jam 09.00 tanpa kepastian mendapat tempat duduk. Benar-benar kesialan yang tak terbayangkan.

Setelah sekian kali mengelap keringat, sekian kali terkencing-kencing, dan sekian kali mengumpat (dalam hati tentunya), tepat pukul 08.15 saya sampai di stasiun Gambir.

Kereta api yang biasanya telat, hari itu diberangkatkan tepat waktu. Saat mulai memasuki pagar stasiun terdengan peluit tanda keberangkatan dibunyikan. Saya segera berlari menaiki tangga demi tangga stasiun menuju ke lantai 3 tempat pemberangkatan kereta api. Sampai di lantai 3 ujung gerbong terakhir kereta sudah berjalan sejauh 10 meter. Saya kembali berlari, mengejar, ngos-ngosan… dan akhirnya pintu gerbong terakhir tergapai. Saya berayun memasuki gerbong dan sekejap kemudian pandangan mata menjadi gelap. Saya pingsan selama beberapa detik di pintu gerbong. Perlahan pandangan mata mulai terang. Sambil berjalan pelan-pelan saya mencari tempat duduk yang sudah saya pesan. Dan saat kursi itu ditemukan, saya menghempaskan badan. Masih ngos-ngosan dan berkeringat.

Hari itu memang gila. Gila apesnya…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s