Kebanjiran

Gambar

Jakarta adalah kota banjir. Saya tidak lain daripada harus setuju dengan kalimat ini. Hidup selama 12 tahun di rumah kost daerah Kemayoran membuat saya kenal dekat dengan banjir. Bila turun hujan lebih dari sejam, dapat dipastikan air banjir akan mengunjungi rumah kost. Walaupun kamar saya di lantai 2, tetapi keluarga ibu kost tinggal di lantai bawah. Tidak enak rasanya kalau tidak membantu menguras air yang masuk.

Suatu hari, rupanya hujan turun berjam-jam. Anak-anak kost sudah mulai panik karena ketinggian air di lantai 1 sudah mendekati pompa air. Kalau sampai pompa air terendam dan rusak, alamat tidak bisa mandi berhari-hari. Maka, saat hujan tak jua behenti, kami mulai menguras air dari dalam rumah. Para tetangga berteriak-teriak mengingatkan agar menguras airnya nanti saja setelah hujan berhenti. Percuma kata mereka. Kami pun enggan menjelaskan karena sedang balapan dengan air yang terus masuk tanpa kenal lelah hendak menyerang pompa air tercinta. Memang kalau diingat jadinya lucu juga. Di luar hujan deras dan air membanjir masuk rumah. Di dalam kami bekerja keras mengeluarkan air banjir. Jadinya seperti Sisypus yang mendorong batu ke atas gunung dan kemudian digelundungkan lagi ke bawah, demikian terus menerus.

Di lain waktu, saat itu sudah malam. Hujan turun sejak sore. Saya sudah tertidur dan mulai bermimpi. Tapi malam itu mimpinya sangat aneh. Saya minum terus menerus padahal sudah tidak haus lagi. Maka saya pun bangun dan mendapati atap rumah tepat di atas kepala saya bocor dan bocorannya masuk ke mulut saya yang sering terbuka.

Tapi yang paling menjengkelkan adalah banjir besar tahun 1996. Saat itu saya harus masuk pagi. Hujan sudah menerjang sejak malam sebelumnya. Begitu bangun, perut saya mules dan ingin buang air besar. Sewaktu turun ke di lantai 1, saya mendapati WC termasuk closet jongkok di dalamnya sudah terendam air. Mau tidak mau saya terpaksa pergi bekerja sambil menahan mules supaya bisa buang air besar di kantor, di Cengkareng.

Seharian itu saya bekerja dan hujan pun tampaknya masih belum reda. Waktu pulang telah tiba, bis jemputan yang akan membawa pulang masih belum muncul juga. Terhambat banjir menurut berita yang didengar. Akhirnya setelah menungu selama satu jam lebih, kami bisa pulang. Tapi rupanya kesialan belum usai. Kembali bis terhambat banjir dalam perjalanan pulang. Jalan raya sudah seperti kubangan besar yang penuh dengan mobil mogok. Sopir bis berusaha mencari jalan yang masih bisa dilewati sampai tak terasa malam sudah datang.

Ternyata bis tidak bisa lewat daerah Kemayoran. Saya dan beberapa teman harus turun di stasiun Jakarta Kota, sekitar 5 kilometer dari Kemayoran. Di malam yang gelap, menenteng sepatu dan bertelanjangkaki karena jalan tergenang air, kami berjalan beriringan. Sekitar pukul 22.00 saya sudah mendekati tempat kost. Tiba-tiba saya merasa menendang sesuatu dan terasa perih di kaki. Ternyata kaki saya luka terkena kulit durian yang terbawa banjir.

Hari itu memang sungguh sial. Banjir besar merepotkan semua orang termasuk saya.

Benar-benar sial…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s