Anak

Gambar

Apakah anda pernah menonton film dengan judul 300? Film ini mengisahkan tentang keperkasaan pria Sparta mempertahankan negaranya dari serangan kerajaan lain. Tetapi bukan film ini yang akan saya bahas, melainkan awal dari film ini. Dikisahkan bahwa bangsa Sparta sangat menghargai kemampuan fisik. Bayi yang baru lahir akan segera diperiksa oleh para tetua. Bila terdapat cacat, maka bayi tersebut akan dilemparkan ke jurang karena dianggap tidak layak hidup dan dianggap tidak akan mampu menjadi prajurit Sparta. Kelihatannya kejam bukan?

Apakah di jaman yang dianggap beradab ini kejadian di atas masih mungkin terjadi? Jawabannya YA. Anda tidak percaya? Istri saya punya teman yang sangat menginginkan anak laki-laki. Maka setiap kali hamil dia segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandungannya. Bila ternyata jenis kelaminnya perempuan, maka ia akan segera menggugurkan kandungannya. Dan begitulah terjadi beberapa kali.

Ada pula ibu yang memerisakan kandungan dan diberitahu dokter bahwa kemungkinan bayinya nanti akan mengalami kekurangan atau cacat setelah dilahirkan. Dokter bahkan menyarankan agar bayinya digugurkan saja dan sang ibu mengangguk mantap tanda setuju. Sang ibu takut bayinya akan kalah bersaing dalam kehidupan setelah dewasa nanti. Bukankah ini mirip dengan kisah Sparta di atas?

Keberadaan anak memang kadang membingungkan. Ada yang sudah merasa cukup tetapi anknya bertambah terus. Ada yang mendamba setengah mati untuk mendapatkannya, tapi belum terkabul juga. Seorang teman yang sulit memiliki anak bahkan sampai ingin selingkuh supaya bisa punya anak. Tetapi teman yang lain bisa menerima keadaan ini, bahkan bisa membuatnya menjadi bahan canda dan guyonan. Maka bersyukurlah anda yang mendapatkan anak sesuai dengan harapan dan perencanaan.

Anak bukanlah hak milik tetapi hanya titipan. Seorang penyair terkenal di masa lalu bahkan pernah mangatakan bahwa anakmu sesungguhnya bukanlah anakmu. Masih banyak orang tua yang menganggap anak sebagai investasi masa depan. Makanya prinsip banyak anak banyak rejeki kadang ada benarnya. Anak diharapkan untuk menghidupi orang tua di masa depan. Apakah hal ini salah? Tidak juga. Tetapi seringkali karena prinsip ini, orang tua jadi pilih kasih. Anak yang paling makmur sangat disayangi karena bisa menjadi gantungan hidup. Sementara anak yang paling sengsara semakin ditinggalkan. Padahal bukankah yang sengsara yang butuh perhatian. Hal ini ditambah dengan adat bangsa Indonesia yang masih mengukur segala sesuatu dari harta yang dimiliki.

Saya termasuk anak yang sangat bahagia karena orang tua saya adalah orang tua yang penuh pengertian. Saat baru mulai bekerja, ibu mewajibkan saya untuk menyetorkan sepertiga gaji kepada beliau. Rupanya uang itu ditabung oleh ibu karena beliau takut saya tidak bisa mengontrol pengeluaran. Empat tahun kemudia tabungan tersebut ternyata cukup untuk membayar uang muka pembelian rumah tipe 36.

Bahkan sampai saat ini pun orang tua saya masih sering mananyakan, apakah penghasilan saya cukup untuk menghidupi keluarga? Mereka juga mengatakan agar saya tidak usah terlalu memikirkan mereka. Uang pensiun sebagai PNS sangat mencukupi untuk mendukung kehidupan mereka. Malah kadang-kadang mereka menawarkan bantuan uang saat saya akan merenovasi rumah. What a great parent, don’t you think so?

Saya tidak lain hanya bisa bersyukur dan berharap semoga saya bisa berlaku seperti orang tua saya saat nanti menjadi tua. Saya ingin bersikap adil kepada anak-anak saya dan menyayangi mereka bukan karena harta yang mereka miiki. Oleh karena itu saya mengajarkan sejak awal kepada anak-anak agar tidak mengukur segala sesuatu dengan harta. Harta memang penting, tapi toh tidak akan dibawa mati.

Saya berharap anak-anak saya bisa rukun nantinya dan tercukupi kebutuhan hidupnya.

See you in the next post

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s