Kemalingan

GambarSaya pernah memiliki sepeda motor bebek berwarna hitam. Saya membelinya tahun 2000 sebelum menikah dengan uang tabungan yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Jadi waktu pacaran saya selalu menggunakan sepeda motor ini. Saat bulan madu, saya dan istri mengendarai sepeda motor ini dari Bandung ke Jogja dan menghabiskan waktu selama seminggu di sana. Ketika menempati rumah baru di tahun 2004, sepeda motor inipun tetap setia menemani.

Pada suatu hari, setelah bekerja seharian saya merasa sangat lelah. Setelah memasukkan sepeda motor ke dalam rumah, sayapun segera tertidur bersama istri dan anak kami. Tidak ada firasat atau perasaan apapun malam itu. Pagi harinya saya terbangun mendengar teriakan istri karena atap rumah di atas ruang tamu bolong dan pintu depan terbuka. Segera saya bangun dan melihat tempat di mana saya letakkan sepeda motor. Ternyata benar… sepeda motor itu sudah lenyap. Saya segera melapor ke ketua RT dan beliau segera menghubungi polisi. Tak lama polisi tiba dan segera melihat tempat kejadian. Mereka meminta agar saya datang ke kantor polisi untuk membuat laporan kehilangan. Sebenarnya saya malas berurusan dengan polisi, tetapi karena takut sepeda motor saya disalahgunakan untuk berbuat kejahatan, maka saya datangi juga kantor polisi pagi itu.

Di sana laporan saya segera diproses. Setelah selesai membuat laporan saya dimintai uang, padahal di belakang pak polisi itu ada tulisan besar-besar “Pelayanan tidak dipungut biaya”. Saya juga diminta untuk melaporkan  hal ini ke bagian reserse di lantai 2. Saat menuju lantai 2, ada polisi yang memanggil dari bawah tangga dan menawarkan untuk mengurus masalah asuransinya. Saya katakan bahwa sepeda motor saya sudah berumur 6 tahun dan dibeli tunai.

Di lantai 2 kembali saya diwawancarai oleh pak reserse. Saya ceritakan bahwa yang hilang bukan cuma sepeda motor tetapi juga helm dan kunci rumah. Mendengar itu pak reserse terbelalak dan berkata dengan seriusnya. “Saran saya pak… bapak harus segera mengganti kunci rumah.” Saya cuma membatin, ya iya lah. Mau saya kunci pakai apa rumah saya nanti malam.

Para tetangga yang mengetahui kejadian ini mendatangi kami, tetapi mereka malah sepertinya menyalahkan kami dengan mengatakan bahwa kami lalai. Jengkel juga mendengar komentar-komentar mereka. Orang lagi susah kok malah dicela.

Malam harinya, 2 orang teman medatangi rumah kami. mereka bertamu karena mendengar bahwa kami sedang mengalami musibah. Mereka mendengarkan cerita kami dengan penuh perhatian. Setelah selesai, mereka menghibur kami dengan kalimat-kalimat yang bernada optimisme dan mengakhiri kunjungan dengan mengajak berdoa bersama. Walaupun mengalami musibah, tetapi kami mendapat pelajaran hidup yang sangat berarti.

Sekarang, menurut anda, siapakah yang paling menolong hidup anda di saat sulit ini. Para polisi yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Atau tetangga yang berebut menyalahkan dan menghakimi kami? Atau 2 orang teman yang mendatangi kami dengan penghiburan dan doa?

Ternyata yang dibutuhkan orang saat mengalami musibah adalah hiburan dan doa, bukan penghakiman…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s