Baiyun Airport

Gambar

Foto di atas adalah restoran di salah satu sudut terminal domestik bandara Baiyun di kota Guangzhou. Saat itu saya dan teman-teman sedang transit dari Jakarta hendak menuju ke kota Xian di China tengah. Guangzhou sendiri berada di China sebelah selatan. Penerbangan dari Asia selatan atau tenggara biasanya transit di bandara ini. Itulah sebabnya kita bisa bertemu dengan berbagai bangsa dunia di sini, termasuk orang Indonesia dalam jumlah yang agak banyak.

Bandara ini besar sekali. Saat baru turun di terminal Internasional, kami setengah berlari menuju terminal domestik karena takut tertinggal pesawat. Inipun masih memakan waktu setengah jam. Untunglah ternyata maskapai penerbangan yang akan membawa kami ke Xian mengumumkan keterlambatan keberangkatan. Jadilah kami akan siang dulu di sana.Sebenarnya di sana disediakan mobil listrik untuk mengantar penumpang yang bepergian antar terminal. Tetapi harus membayar 10 yuan atau sekitar Rp. 13.000,-. Kami yang berusaha berhemat dengan uang perjalanan dinas yang tidak terlalu banyak memilih jalan kaki. Satu hal yang kami sesali pada akhirnya.

Pemeriksaan imigrasi di bandara Baiyun cepat dan efisien, padahal petugasnya masih muda-muda. banyak sekali tempat pemeriksaan yang disediakan. Saya hitung paling tidak 3 kali lipat dari yang berada di Bandara Soekarno-Hatta. Demikian pula dengan suhu tubuh yang otomatis terperiksa saat kami melewati semacam gerbang detektor. Maklumlah saat itu efek penyakit SARS masih nyaring terdengar.

Saat hendak masuk ke ruang tunggu, kami harus kembali melalui detektor dan barang-barang kami melalui scanner. Ternyata korek api, gunting, bahkan gunting kuku pun tidak boleh lewat dan harus dibuang di tempat sampah yang sudah disediakan. Begitu pula dengan laptop. Baterai dan laptopnya harus dimasukkan scanner secara terpisah. Saya tidak tahu maksudnya. Mungkin pernah ditemukan bahan peledak dalam baterai laptop. Saya jadi merasa bahwa di China lebih aman.

Secara umum suasana di bandara mirip dengan di Indoensia. Orang-orang yang berkomunikasi dengan suara keras, suasana berisik, pramuniaga toko yang berdiri di depan etalase sambil menawarkan barang yang dipajang. Tapi yang membuat kami merasa lebih nyaman adalah banyaknya pramuniaga dan petugas bandara yang bisa berbahasa Inggris dengan lancar.

Saya lupa menceritakan tentang makanan yang kami santap di restoran dalam foto di atas. Tadinya saya mau pesan mie kuah. Pasti rasanya lebih enak karena memakai daging babi. Tetapi ternyata teman teman maunya makan nasi kari saja yang aman. Terpaksalah saya menurut. Tapi saya tidak menyesal. Nasi karinya benar-benar enak dan sesuai dengan lidah orang Indonesia.

Itulah cerita sekilas tentang bandara Baiyun di kota Guangzhou. Saya ingin sekali waktu mengunjunginya lagi.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s