Misdinar

Gambar

Misdinar berasal dari bahasa Belanda yang berarti pelayan Imam atau Pastor saat perayaan Ekaristi. Biasanya yang menjadi misdinar adalah anak-anak laki-laki yang sudah menyambut komuni pertama, tetapi di beberapa gereja, ada juga anak perempuan yang menjadi misdinar. Manjadi misdinar merupakan kebanggaan bagi sang anak dan keluarganya karena biasanya anak yang menjadi misdinar lebih religius dan menjadi contoh baik bagi teman-temannya.

Keluarga ibu saya adalah keluarga Katolik turun temurun. Kakek atau saya memanggilnya eyang adalah seorang prodiakon atau pembantu Pastor dalam melaksanakan tugas-tugas Gereja. Maka paman-paman saya tentunya juga menjadi misdinar di gereja. Demikianlah turun temurun tugas ini sampai ke saya saat berumur sekitar 10 tahun.

Misdinar baru akan mulai bertugas setelah berlatih setiap minggu selama setahun. Pelatihnya adalah misdinar senior termasuk paman-paman saya. Saat mulai bertugas saya deg-degan setengah mati. Takut melakukan kesalahan karena dilihat begitu banyak umat yang mengikuti perayaan ekaristi. Keringat dingin mengucur deras di seluruh badan. Tapi setelah itu saya menjadi ketagihan  melaksanakana tugas sebagai misdinar. Seringkali saya menggantikan tugas teman yang berhalangan, sampai pernah mendapat penghargaan sebagai misdinar teladan.

Sekarang anak saya yang sulung, Seto, sudah menerima komuni dan sudah hampir setahun ini belajar menjadi misdinar. Tadinya mau ikut menjadi misdinar karena setengah dipaksa, tapi lama-lama ia menyukainya juga walaupun teman-temannya berguguran satu demi satu di tengah jalan.

Hari Sabtu yang lalu kami sekeluarga pergi ke gereja. Saat memasuki gereja Seto terlihat dipanggil temannya dan menghilang. Saya pikir nanti dia akan menyusul. Sampai perayaan ekaristi hampir dimulai Seto belum juga terlihat. Kemudian mulailah perayaan ekaristi itu. Terlihat iringan misdinar, prodiakon, dan Pastor menuju mimbar dan ternyata… Seto menjadi salah satu misdinar. Sungguh suatu kejutan. Di hari ulang tahun saya, anak sulung saya memulai tugas sebagai misdinar. Seto menjalankan tugasnya dengan serius dan agak tegang. Sama seperti yang saya rasakan dan alami hampir 30 tahun yang lalu.

Di akhir perayaan ekaristi kami sekeluarga memberikan ucapan selamat kepada Seto. Demikian pula dengan kekek dan neneknya yang kami kabari lewat telepon. Mudah-mudahan Seto tidak bosan dengan tugasnya dan menjadi misdinar yang baik.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s