Monthly Archives: July 2013

Douglas DC-9

Gambar

Gambar di atas adalah pesawat terbang DC-9 buatan Douglas Aircraft Company (kemudian menjadi McDonnel Douglas setelah merger). Pesawat dengan registrasi (plat nomor kalau di mobil/motor) PK-GNR di atas menjadi istimewa karena inilah pesawat terbang pertama yang saya naiki menuju Dili, Timor Timur untuk menengok bapak yang bertugas di sana. Saat itu Garuda dan Merpati masih ber-integrasi sehingga sebagian DC-9 dicat dengan logo Garuda dan sebagian lagi dengan logo Merpati. Yang agak lucu juga adalah pengoperasian pesawatnya. Sebagian dioperasikan oleh Garuda dan sebagian oleh Merpati. Saat itu Garuda akan full switching ke pesawat Boeing 737 classic (seri 300, 400, dan 500), tetapi jumlahnya belum mencukupi sehingga sebagian rute domestik masih dilayani dengan DC-9.

DC-9 sendiri adalah pesawat desain tahun 1960-an dan dibuat untuk jarak pendek dan menengah. Saat pertama kali bekerja di tahun 1993 sebagai mekanik interior pesawat terbang, DC-9 adalah pesawat terbesar yang dioperasikan Merpati. Kapasitas penumpanganya adalah 97 tempat duduk dan terbagi dalam 2 kelas, bisnis dan ekononomi. Kursi diatur dengan konfigurasi double (2 kursi) di kiri dan triple (3 kursi) di kanan.

Pesawat ini kelihatannya dirancang untuk dipakai di negara berkembang yang minim fasilitas atau di negara yang sudah maju tetapi menginginkan waktu transit yang cepat. Posisi badannya rendah sehingga hampir semua panel service dapat dijangkau tanpa harus memakai tangga. Pintu penumpang pertama ada di depan kiri, dilengkapi tangga yang bisa dikeluarkan dari bawah pintu dengan motor listrik. Sedangkan pintu penumpang kedua ada di ekor sekaligus berfungsi sebagai tangga saat terbuka, dan digerakkan dengan tenaga hidrolik.

Mesin pesawat dipasang di badan bagian belakang untuk menghindari kotoran tersedot ke mesin. Posisi mesin ini juga membuat tingkat kebisingan menjadi rendah karena terletak di belakang posisi penumpang. Semua sistem yang membuat berisik (mesin, mesin pengkondisi udara, dan unit tenaga tambahan) dipasang di bagian belakang badan pesawat sehingga membuat penumpang betul-betul bebas dari kebisingan.

DC-9 seingat saya memang badak (ada yang bilang bandel).  Sistem pesawatnya tidak mudah rusak. Mungkin karena masih menggunakan banyak peralatan mekanik dibandingkan dengan elektronik. Jarang sekali kaca kokpit retak, sedangkan pesawat lain yang sekelas bisa beberapa kali ganti kaca kokpit dalam setahun. Demikian pula dengan interiornya. Jarang sekali kursi yang dipakai penumpang rusak, walaupun kerusakan kecil. Bahkan sampai pesawat ini dihapus dari kekuatan armada Merpati, rasanya saya belum pernah memperbaiki kursi pilotnya. Saya masih ingat dengan sistem interphone-nya. Karena pesawat lama, switching sistem interphone masih menggunakan relay, belum menggunakan alat elektronik, jadi tidak mudah rusak. Tetapi sekali rusak, kami, para mekanik harus masuk ke ruangan komponen electrik/electronic di bawah kokpit dan mencari relay yang bermasalah. Kalau tidak hati-hati bisa kesetrum karena menggunakan aliran listrik AC yang cukup besar.

Menjadi penumpang pesawat DC-9 sangat menyenangkan. Mesinnya bertenaga besar. Bahkan bila mesin sudah berputar dan pesawat tidak direm, maka pesawatnya akan menggelinding dengan sendirinya. Daya menanjaknya pun bagus, khas pesawat bikinan Douglas, kata beberapa engineer senior. Saat sudah dalam posisi jelajah, posisi pesawat sedikit mendongak sehingga duduk sangat terasa nyaman. Belum lagi suara mesin yang terdengar sangat halus, belum tertandingi oleh pesawat jaman sekarang. Saya pernah membaca bahwa posisi pesawat yang mendongak selama terbang adalah bagian dari desain pesawat untuk menghemat konsumsi bahan bakar selama terbang dalam kecepatan jelajah.

Bila kita memasuki kokpit, maka di lantai di belakang kursi pilot ada akses menuju ruangan komponen elctric/electronic, sementara ruangan komponen ini dapat juga diakses dari bawah badan pesawat. Jadi mekanik bisa keluar masuk pesawat tanpa melalui pintu penumpang. Yang juga agak unik dari pesawat ini adalaah posisi kompas magnetisnya. Bila kebanyakan pesawat memasang kompas magnetis di dekat kaca depan, maka pada DC-9 kompas magnetis terpasang di belakang kursi ko-pilot sebelah atas. Jadi untuk melihatnya harus memakai cermin yang terpasang di dashboard.

Dengan bergantinya tahun, pesawat DC-9 digantikan oleh pesawat yang lebih baru (walaupun tidak selalu lebih bagus). Tetapi DC-9 tetap akan menjadi kenangan yang indah bagi awak penerbangan yang pernah merawat atau mengunakannya.

See you in  the next post…

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pameran Mummy dan Budaya Mesir di Mall

Gambar

Sejak minggu ketiga bulan Juli sampai akhir Agustus 2013, diadakan pameran mengenai mummy dan budaya Mesir pada jaman itu, di sebuah mall di Bekasi Utara. Pameran mengambil tempat di lantai 1 dan menempati ruangan yang cukup luas. Tiket masuknya Rp. 10.000,- per orang. Anak-anak di atas 3 tahun harus membayar bila ingin mengunjugi pameran ini.

Maka dengan antusias, anak-anak saya mengajak untuk melihat pameran ini. Setelah membayar tiket, kami masuk dan langsung bertemu sebuah ruangan yang remang-remang berisi beberapa patung dewa Mesir yang terbuat dari busa. Penerangan menggunakan lampu yang dibuat menyerupai obor. Suasana padang pasir dan jaman yang telah lampau langsung terasa dengan warna coklat pasir yang mendominasi ruangan.

Pintu menuju ruangan berikutnya ditutupi tirai berwarna coklat pasir. Saat memasuki ruangan kedua, kami disambut sebuah tayangan dokumenter dari National Geographic tentang lembah para Raja, mummy Tutankhamun, dan penelitian yang dilakukan untuk membuat replika sebuah mummy. Film diputar berulang-uang. Jadi, bila tertinggal dari awal film, masih bisa mengikuti rangkaian ceritanya.

Selesai di ruangan film, kami menembus tirai berikutnya menuju ruangan yang lebih terang dan berisi miniatur patung-patung dewa bangsa Mesir disertai keterangan cukup rinci. Ruangan berikutnya masih berisi patung-patung dewa dan patung Tutankhamun tetapi seukuran manusia. Di ruangan ini pula terdapat replika mummy Tutankhamun dengan skala 1:1 dalam peti kaca. Ruangan ini cukup terang karena di dindingnya tergantung beberapa berita yang diperbesar seukuran kertas A3 dan dibingkai. Diantaranya berisi berita mengenai penemuan mummy Tutankhamun dan riwayat hidup Tutankhamun.

Menyingkap tirai ruangan berikutnya, terlihat seperti replika ruangan sebuah piramida. Dengan tembok dan ruangan yang berliku. Tanda panah yang menyesatkan. Patung-patung dan mummy sekeuran manusia. Ruangan ini semakin seram karena nyaris tanpa penerangan. Saat memasuki lorong menuju pintu keluar, kami kaget bukan kepalang, karena mummy di ujung lorong tiba-tiba bergerak-gerak. Maka berhamburanlah kami kembali menuju ruangan pamer replika mummy yang terang benderang. Di sana pak satpam sudah menghadang dan mangatakan bahwa jalan keluarnya harus lewat ruangan yang menyeramkan tadi.

Akhirnya kami menunggu rombongan lain dan beramai-ramai menuju pintu keluar melalui labirin replika piramida itu. Kekagetan demi kekagetan kami alami sepanjang belokan lorong. Dan ternyata mummy yang bergerak tadi adalah patung yang digerakkan oleh seseorang yang berpakaian seperti prajurit Mesir kuno. Setelah beberapa menit penuh ketegangan dan tersasar melalui ruangan-ruangan yang seram, kami menemukan pintu keluar.

Aaaaahhhh…. hawa segar dan cahaya lampu yang terang benderang menyambut kami, dan kami pun tertawa terbahak-bahak mentertawakan katakutan kami di dalam tadi. Padahal, waktu di dalam labirin, jangankan tertawa, tersenyum saja tidak mampu.

Dengan harga tiket Rp. 10.000,- rasanya pameran ini layak dikunjungi untuk menambah pengetahuan anak-anak. Asalkan jantung cukup kuat untuk melewati labirin replika piramida yang mengakhiri petualangan ini…

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kecelakaan Lalu Lintas

Gambar

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Saya adalah seorang yang rasanya taat pada peraturan, termasuk dalam hal berkendara dengan kendaraan bermotor. Memiliki SIM adalah salah satu bentuk ketaatan saya pada peraturan lalu lintas. Demikian pula dengan etika dan tata tertib berlalu lintas, selalu saya ikuti.

Tetapi saat berurusan dengan sepeda motor di negeri ini, semua peraturan dan etika berlalu lintas seolah-olah lenyap ditelan oleh kegilaan para pengendara sepeda motor. Sepertinya para pengendara sepeda motor itu memiliki dendam kesumat kepada pemilik mobil dan selalu berusaha untuk menyusahkannya. Saya berusaha adil dalam bercerita karena selain memiliki mobil (tua), saya juga memiliki sepeda motor dan sering mengendarainya.

Coba bayangkan. Dalam waktu setengah tahun, saya sudah mengalami kecelakaan dengan 2 sepeda motor. Tidak terhitung dengan yang menabarak atau menyerempet mobil terus kabur. Dan yang lebih celaka, kejadiannya sangat-sangat mirip.

Kejadian pertama di dekat rumah di Bekasi. Saat itu saya mengendarai mobil bersama keluarga. Saat akan menyeberang jalan menuju supermarket, saya menyalakan lampu sein (sign). Kemudian berhenti untuk memberi kesempatan kepada pengendara sepeda motor (yang selalu tidak sabaran) untuk lewat. Setelah saya melirik kaca spion dan melihat sepeda motor sudah berhenti, saya melanjutkan berbelok ke kanan menyeberang jalan. Tiba-tiba terdengar suara sreeeeettttt….. braakkkk….. Dari kaca spion saya melihat penjual tahu dengan sepeda motor terjatuh di pinggir jalan. Saya segera memarkir mobil dan menghampiri pengendara yang jatuh itu. Seperti biasa pengendara itu mengomel tak jelas dan pokoknya menyalahkan saya sambil meminta ganti rugi Rp. 400.000,-. Edan batin saya. Saya pun segera pasang tampang serem dan menanyakan SIM-nya (karena saya tahu persis kebanyakan pengendara sepeda motor tidak memiliki SIM). Barulah ia mengendur dan menurunkan permintaan ganti ruginya menjadi Rp. 200.000,-. Saya berusaha menjelaskan dengan sabar bahwa ia jatuh karena kesalahannya sendiri dan hanya bisa memberi kompensasi sebesar Rp. 50.000,-. Itu pun karena saya merasa kasihan, bukan karena merasa salah. Akhirnya ia mau menerima walaupun dengan bersungut-sungut.

Kecelakaan kedua terjadi beberapa hari yang lalu di Bandung. Kejadiannya sama persis dengan di atas. Hanya kali ini saya tidak ambil pusing dan terus menyetir ke rumah orang tua beberapa ratus meter dari tempat jatuhnya pengendara sepeda motor itu . Eh… si pengendara motor mengejar dan melotot pada saya. Saya segera turun dari mobil dan sebisa mungkin menahan diri karena saking jengkelnya. Ia menyalahkan saya karena tidak mau menolong orang yang jatuh. Rupanya dia menyadari kesalahannya dan berusaha mencari-cari kesalahan saya. Sudah jelas bahwa saya tidak bersalah, sekarang tuduhannya adalah tidak menolong orang yang jatuh. Saya katakan bahwa ia jatuh karena kesalahnnya sendiri. Mengapa menyalahkan saya yang tidak menolongnya? Tetapi saya mencoba bersabar dan mengatakan bahwa bila saya salah, saya minta maaf (walaupun saya sama sekali tidak bersalah dalam hal ini). Permintaan maaf saya ditanggapi tetapi masih dengan mengomel. Saya jadi jengkel lagi dan menanggapi omelannya dengan kata-kata yang keras. Akhirnya ia pergi dengan sumpah serapah di mulutnya.

Dari dua kejadian di atas, saya mendapat pelajaran bahwa kebenaran yang kita lakukan belum tentu menjadi benar bagi orang lain. Pelajaran lain adalan bahwa pemilik mobil selalu akan disalahkan bila terlibat kecelakaan dengan pengendara sepeda motor. Mungkin dianggapnya pemilik mobil adalah orang kaya yang pantas diperas. Tidak ada jalan lain untuk menghindari kejadian seperti di atas selain tetap berhati-hati, waspada, dan sabar bila berhadapan dengan pengendara sepeda motor di negeri ini.

Waspadalah dan berhati-hatilah…

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Macet di tol Cikampek

Gambar

Kemarin, tanggal 1 Juli 2013 adalah hari apes bagi saya. Setelah berada di Bandung selama 2 hari, saya pulang ke Bekasi. Sengaja berangkat pagi-pagi biar masih ada waktu untuk membereskan rumah sebelum berangkat kerja shift siang.

Maka pukul 04.45 saya berangat dari rumah orangtua menuju terminal Leuwi panjang. Pukul 05.45 bus jurusan Harapan Indah sudah bergerak membawa saya menuju Bekasi. Karena masih mengantuk, saya tertidur. Sekitar satu setengah jam kemudian, saat terbangun, bis terasa tidak bergerak. Dan ternyata memang kena macet. Diperhatikan lagi ternyata baru sampai di daerah Sadang. Waduh…. ada apa ini…

Kemacetan ternyata terus berlangsung sampai di daerah Karawang. Ada pengumuman yang menyatakan bahwa terjadi longsor di KM 47 Karawang. Saat itu sudah pukul 9 pagi dan bis sudah mendekati pintu tol Karawang Timur. Saya pikir, sebentar lagi macet akan berlalu.

Tetapi saya tidak tahu apa yang ada di kepala si sopir bis ini… Dia malah keluar tol dan lewat jalan biasa. Dan ternyata sama saja… macet juga. Karena sudah terlanjur keluar tol, maka dengan cueknya awak bis ini malah sekalian ngompreng, menaikkan penumpang sepanjang jalan. Maka tidak heran bila pintu tol Karwaang Barat, Cikarang, dan Cibitung dilewati. Yang paling parah adalah kemacetan di Cibitung. Bis berhenti nyaris tidak bergerak selama hampir satu jam. Seorang penumpang di belakang menelepon temannya yang naik bisa pukul 7 pagi dari Bandung. Ternyata sudah sampai Jatiwaringin pada pukul 11 karena sopirnya setia mengikuti jalan tol….

Akhirnya dengan perasaan dongkol pada bis ini saya sampai di Bekasi pada pukul 12.30… dan sudah pasti tertinggal mobil jemputan. Maka setelah berganti pakaian dan mengambil perlengkapan kerja, saya berlari mengejar bis yang menuju bandara.

Kesialan belum berlalu… kali macet kembali didaerah Jatiwaringin sampai lepas Cawang. Untungnya sepanjang tol dalam kota lancar. Tapi kesabaran saya rupanya masih harus diuji. Biasanya bis ke arah bandara menuju terminal 1, kemudian terminal 2, baru terminal 3. Ternyata bis berbelok dulu di terminal 3. Saya yang menuju terminal 2 harus menahan kejengkelan lagi karena menjadi pemumpang terakhir yang diturunkan.

Sesampai di kantor, lengkap sudah kesialan hari ini karena sambungan internet mati. Jadi tidak bisa kerja apa-apa….

Apes…pes…pes…

Leave a comment

Filed under Uncategorized