Kecelakaan Lalu Lintas

Gambar

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Saya adalah seorang yang rasanya taat pada peraturan, termasuk dalam hal berkendara dengan kendaraan bermotor. Memiliki SIM adalah salah satu bentuk ketaatan saya pada peraturan lalu lintas. Demikian pula dengan etika dan tata tertib berlalu lintas, selalu saya ikuti.

Tetapi saat berurusan dengan sepeda motor di negeri ini, semua peraturan dan etika berlalu lintas seolah-olah lenyap ditelan oleh kegilaan para pengendara sepeda motor. Sepertinya para pengendara sepeda motor itu memiliki dendam kesumat kepada pemilik mobil dan selalu berusaha untuk menyusahkannya. Saya berusaha adil dalam bercerita karena selain memiliki mobil (tua), saya juga memiliki sepeda motor dan sering mengendarainya.

Coba bayangkan. Dalam waktu setengah tahun, saya sudah mengalami kecelakaan dengan 2 sepeda motor. Tidak terhitung dengan yang menabarak atau menyerempet mobil terus kabur. Dan yang lebih celaka, kejadiannya sangat-sangat mirip.

Kejadian pertama di dekat rumah di Bekasi. Saat itu saya mengendarai mobil bersama keluarga. Saat akan menyeberang jalan menuju supermarket, saya menyalakan lampu sein (sign). Kemudian berhenti untuk memberi kesempatan kepada pengendara sepeda motor (yang selalu tidak sabaran) untuk lewat. Setelah saya melirik kaca spion dan melihat sepeda motor sudah berhenti, saya melanjutkan berbelok ke kanan menyeberang jalan. Tiba-tiba terdengar suara sreeeeettttt….. braakkkk….. Dari kaca spion saya melihat penjual tahu dengan sepeda motor terjatuh di pinggir jalan. Saya segera memarkir mobil dan menghampiri pengendara yang jatuh itu. Seperti biasa pengendara itu mengomel tak jelas dan pokoknya menyalahkan saya sambil meminta ganti rugi Rp. 400.000,-. Edan batin saya. Saya pun segera pasang tampang serem dan menanyakan SIM-nya (karena saya tahu persis kebanyakan pengendara sepeda motor tidak memiliki SIM). Barulah ia mengendur dan menurunkan permintaan ganti ruginya menjadi Rp. 200.000,-. Saya berusaha menjelaskan dengan sabar bahwa ia jatuh karena kesalahannya sendiri dan hanya bisa memberi kompensasi sebesar Rp. 50.000,-. Itu pun karena saya merasa kasihan, bukan karena merasa salah. Akhirnya ia mau menerima walaupun dengan bersungut-sungut.

Kecelakaan kedua terjadi beberapa hari yang lalu di Bandung. Kejadiannya sama persis dengan di atas. Hanya kali ini saya tidak ambil pusing dan terus menyetir ke rumah orang tua beberapa ratus meter dari tempat jatuhnya pengendara sepeda motor itu . Eh… si pengendara motor mengejar dan melotot pada saya. Saya segera turun dari mobil dan sebisa mungkin menahan diri karena saking jengkelnya. Ia menyalahkan saya karena tidak mau menolong orang yang jatuh. Rupanya dia menyadari kesalahannya dan berusaha mencari-cari kesalahan saya. Sudah jelas bahwa saya tidak bersalah, sekarang tuduhannya adalah tidak menolong orang yang jatuh. Saya katakan bahwa ia jatuh karena kesalahnnya sendiri. Mengapa menyalahkan saya yang tidak menolongnya? Tetapi saya mencoba bersabar dan mengatakan bahwa bila saya salah, saya minta maaf (walaupun saya sama sekali tidak bersalah dalam hal ini). Permintaan maaf saya ditanggapi tetapi masih dengan mengomel. Saya jadi jengkel lagi dan menanggapi omelannya dengan kata-kata yang keras. Akhirnya ia pergi dengan sumpah serapah di mulutnya.

Dari dua kejadian di atas, saya mendapat pelajaran bahwa kebenaran yang kita lakukan belum tentu menjadi benar bagi orang lain. Pelajaran lain adalan bahwa pemilik mobil selalu akan disalahkan bila terlibat kecelakaan dengan pengendara sepeda motor. Mungkin dianggapnya pemilik mobil adalah orang kaya yang pantas diperas. Tidak ada jalan lain untuk menghindari kejadian seperti di atas selain tetap berhati-hati, waspada, dan sabar bila berhadapan dengan pengendara sepeda motor di negeri ini.

Waspadalah dan berhati-hatilah…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s