Douglas DC-9

Gambar

Gambar di atas adalah pesawat terbang DC-9 buatan Douglas Aircraft Company (kemudian menjadi McDonnel Douglas setelah merger). Pesawat dengan registrasi (plat nomor kalau di mobil/motor) PK-GNR di atas menjadi istimewa karena inilah pesawat terbang pertama yang saya naiki menuju Dili, Timor Timur untuk menengok bapak yang bertugas di sana. Saat itu Garuda dan Merpati masih ber-integrasi sehingga sebagian DC-9 dicat dengan logo Garuda dan sebagian lagi dengan logo Merpati. Yang agak lucu juga adalah pengoperasian pesawatnya. Sebagian dioperasikan oleh Garuda dan sebagian oleh Merpati. Saat itu Garuda akan full switching ke pesawat Boeing 737 classic (seri 300, 400, dan 500), tetapi jumlahnya belum mencukupi sehingga sebagian rute domestik masih dilayani dengan DC-9.

DC-9 sendiri adalah pesawat desain tahun 1960-an dan dibuat untuk jarak pendek dan menengah. Saat pertama kali bekerja di tahun 1993 sebagai mekanik interior pesawat terbang, DC-9 adalah pesawat terbesar yang dioperasikan Merpati. Kapasitas penumpanganya adalah 97 tempat duduk dan terbagi dalam 2 kelas, bisnis dan ekononomi. Kursi diatur dengan konfigurasi double (2 kursi) di kiri dan triple (3 kursi) di kanan.

Pesawat ini kelihatannya dirancang untuk dipakai di negara berkembang yang minim fasilitas atau di negara yang sudah maju tetapi menginginkan waktu transit yang cepat. Posisi badannya rendah sehingga hampir semua panel service dapat dijangkau tanpa harus memakai tangga. Pintu penumpang pertama ada di depan kiri, dilengkapi tangga yang bisa dikeluarkan dari bawah pintu dengan motor listrik. Sedangkan pintu penumpang kedua ada di ekor sekaligus berfungsi sebagai tangga saat terbuka, dan digerakkan dengan tenaga hidrolik.

Mesin pesawat dipasang di badan bagian belakang untuk menghindari kotoran tersedot ke mesin. Posisi mesin ini juga membuat tingkat kebisingan menjadi rendah karena terletak di belakang posisi penumpang. Semua sistem yang membuat berisik (mesin, mesin pengkondisi udara, dan unit tenaga tambahan) dipasang di bagian belakang badan pesawat sehingga membuat penumpang betul-betul bebas dari kebisingan.

DC-9 seingat saya memang badak (ada yang bilang bandel).  Sistem pesawatnya tidak mudah rusak. Mungkin karena masih menggunakan banyak peralatan mekanik dibandingkan dengan elektronik. Jarang sekali kaca kokpit retak, sedangkan pesawat lain yang sekelas bisa beberapa kali ganti kaca kokpit dalam setahun. Demikian pula dengan interiornya. Jarang sekali kursi yang dipakai penumpang rusak, walaupun kerusakan kecil. Bahkan sampai pesawat ini dihapus dari kekuatan armada Merpati, rasanya saya belum pernah memperbaiki kursi pilotnya. Saya masih ingat dengan sistem interphone-nya. Karena pesawat lama, switching sistem interphone masih menggunakan relay, belum menggunakan alat elektronik, jadi tidak mudah rusak. Tetapi sekali rusak, kami, para mekanik harus masuk ke ruangan komponen electrik/electronic di bawah kokpit dan mencari relay yang bermasalah. Kalau tidak hati-hati bisa kesetrum karena menggunakan aliran listrik AC yang cukup besar.

Menjadi penumpang pesawat DC-9 sangat menyenangkan. Mesinnya bertenaga besar. Bahkan bila mesin sudah berputar dan pesawat tidak direm, maka pesawatnya akan menggelinding dengan sendirinya. Daya menanjaknya pun bagus, khas pesawat bikinan Douglas, kata beberapa engineer senior. Saat sudah dalam posisi jelajah, posisi pesawat sedikit mendongak sehingga duduk sangat terasa nyaman. Belum lagi suara mesin yang terdengar sangat halus, belum tertandingi oleh pesawat jaman sekarang. Saya pernah membaca bahwa posisi pesawat yang mendongak selama terbang adalah bagian dari desain pesawat untuk menghemat konsumsi bahan bakar selama terbang dalam kecepatan jelajah.

Bila kita memasuki kokpit, maka di lantai di belakang kursi pilot ada akses menuju ruangan komponen elctric/electronic, sementara ruangan komponen ini dapat juga diakses dari bawah badan pesawat. Jadi mekanik bisa keluar masuk pesawat tanpa melalui pintu penumpang. Yang juga agak unik dari pesawat ini adalaah posisi kompas magnetisnya. Bila kebanyakan pesawat memasang kompas magnetis di dekat kaca depan, maka pada DC-9 kompas magnetis terpasang di belakang kursi ko-pilot sebelah atas. Jadi untuk melihatnya harus memakai cermin yang terpasang di dashboard.

Dengan bergantinya tahun, pesawat DC-9 digantikan oleh pesawat yang lebih baru (walaupun tidak selalu lebih bagus). Tetapi DC-9 tetap akan menjadi kenangan yang indah bagi awak penerbangan yang pernah merawat atau mengunakannya.

See you in  the next post…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s