Terjepit di Antara Dua Status

Image

Saya adalah orang yang sering berada dalam situasi terjepit. Dalam setiap fase kehidupan ini saya sering mengalaminya. Dimulai dari saat kecil. Saya lahir dan menghabiskan masa anak-anak dalam keluarga yang tidak berkekurangan, tetapi juga tidak kaya. Prestasi saya di sekolah juga tidak buruk, walaupun juga tidak terlalu bagus.

Saat kuliah, saya mendapat Sekolah Tinggi/Universitas yang lumayan dikenal, tetapi juga bukan yang terkenal. Bahkan saat akhirnya bekerja pun, saya mendapat pekerjaan di perusahaan yang selalu rugi, tetapi juga sulit untuk dibubarkan, karena milik negara. Jadilah saya dalam posisi terombang ambing.

Dalam pekerjaan pun, saya menerima jepitan situasi ini, Saya terlalu cepat menjadi pejabat. Ceritanya begini. Jalur normal saat memulai karir di bagian teknik saya bekerja adalah pertama-tama menjadi pembantu mekanik. Setelah memiliki pengalaman minimum 18 bulan, saya bisa ikut ujian menjadi mekanik. Setelah menjadi mekanik selama 2 tahun dan mendapat pelatihan lanjut, saya dapat mengikuti ujian menjadi engineer. Baru setelah itu saya bisa mulai menjajaki kemungkian terpilih menjadi pejabat

Apa yang terjadi? Saya diangkat menjadi kepala mekanik saat masih berstatus pembantu mekanik. Alasannya adalah karena saya saat itu saya sudah mulai kuliah di jurusan manajemen. Alasan lainnya adalah karena di bagian saya semuanya masih berstatus pembantu mekanik. Lucunya beberapa waktu kemudian, salah satu bawahan saya lulus ujian menjadi mekanik, sementara saya yang sudah beberapa kali mengikuti ujian belum lulus juga. Hal ini membuat saya memaksakan diri menghadap Asisten Manajer dan mendiskusikan masalah ini. Apakah normal seorang kepala mekanik berstatus pembantu mekanik memiliki bawahan seorang mekanik. Tetapi jawaban beliau sangat bijaksanan. Katanya. “Saya membutuhkan seseorang yang bisa memimpin, dan kamu memenuhi syarat itu. Tetaplah bekerja seperti biasa”. Untunglah beberapa tahun kemudian saya dapat lulus ujian menjadi mekanik.

Mungkin karena nasib baik juga, setelah 7 tahun menjadi kepala mekanik, ada pemekaran jabatan di bagian teknik. Saya kecipratan rejeki dipromosikan menjadi Assiten Manajer dengan status mekanik. Kejadian lama terulang lagi. Salah satu bawahan saya lulus ujian menjadi engineer sementara saya belum mendapat kesempatan itu. Lagi-lagi saya meghadap Manajer dan mendiskusikan masalah ini. Jawaban dari pak Manajer cukup melegakan. Mereka yang sudah berstatus engineer akan dipindahkan ke bagian lain. Kembali saya merasa aman dengan status saya.

Mungkin karena dianggap kurang berhasil sebagai Asistem Manajer, saya dibebastugaskan setelah menjabat selama sekitar 5 tahun. Biasanya pejabat yang dilengserkan akan dipindahkan ke bagian Inspektorat/Quality Control. Demikian pula halnya yang terjadi. Saya dipindahkan ke bagian Quality Control menjadi Inspector. Karena untuk menjadi Inspector dibutuhkan seseorang yang sudah menjadi engineer, maka nasib saya pun terkatung-katung selama sekitar setahun. Posisi saya tidak jelas. Setelah setahun berlalu barulah saya mendapat penempatan sebagai Inspector dengan kasta paling rendah untuk menyembunyikan status saya yang kurang memenuhi persyaratan tersebut.

Pekerjaan saya sebagai Inspector lumayan menyenangkan dan menarik perhatian banyak pihak. Ada yang mendukung tetapi ada juga yang mencela. Karena saya selalu mendasarkan pekerjaan pada peraturan, maka para oposan mulai memakai cara-cara yang inkonstitusioall. Tetapi sampai saat ini saya masih dipercaya melaksanakan pekerjaan sebagai Inspector dengan kasta tersendah ini. Suatu posisi yang kadang-kadang menyenangkan, tetapi juga kadang menyeramkan.

Ada satu hal lagi yang membuat saya cukup terjepit, Pada tahun 1999, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kursus sebagai instruktur, Jadi saya sewaktu-waktu bisa diminta mengajar di fasilitas diklat milik perusahaan. Celakanya, karena status saya masih mekanik, maka permintaan untuk menjadi instruktur pun sepi. Bahkan teman-teman engineer yang mendapat pelatihan instruktur beberapa tahun sesudahnya malah sudah mendapat kesempatan mengajar berkali-kali.

Dengan status yang membingungkan ini, saya kadang teringat lagu yang dinyayikan Mary McGregor berjudul Torn Between Two Lovers.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s