Para Priyayi

Image

Para Priyayi adalah sebuah novel karya pak Umar Kayam yang menceritakan tentang liku-liku kehidupan priyayi dalam masa penjajahan Belanda, jaman Jepang, hingga saat Indonesia merdeka. Novel ini mengambil setting waktu akhir abad 19 hingga pertengahan abad 20 dan dibagi dalam beberapa bab yang mengambil sub judul nama tempat atau nama pelaku. Bahasa yang sederhana membuat novel ini mudah dipahami. Tetapi kalimat atau paragaraf yang panjang di beberapa bagian kadang-kadang terasa melelahkan. Pengalaman pribadi pak Kayam sebagai seorang priyayi yang mengalami tiga jaman membuat novel ini serasa sangat hidup. Peristiwa G30S-PKI yang sangat mencekam pun tak luput dari jalinan cerita. Hal yang akan sering disinggung oleh pak Kayam dalam karya-karyanya.

Priyayi dalam kultur Jawa adalah suatu status sosial yang tinggi dan terhormat. Dulu yang disebut priyayi adalah keluarga kerajaan dan pejabat yang bekerja untuk kerajaan. Tetapi kemudian para pegawai negeri yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda (gupermen) juga disebut priyayi. Banyak orang tergiur untuk meningkatkan status sosialnya menjadi priyayi karena dianggap sebagai kasta yang tinggi dalam struktur masyaratkat. Status di bawah priyayi adalah kaum petani dan pedagang. Banyak petani dan pedagang yang lebih makmur hidupnya dibandingkan para priyayi, tetapi pengakuan dari masyarakat terhadap status sosial yang tinggi memang sangat berarti saat itu.

Cerita dalam novel ini berpusat pada sosok Sastrodarsono, seorang anak petani yang berkesempatan menjadi priyayi setelah menjadi guru. Dengan bantuan seorang pejabat pemerintahan, Sastrodarsono dapat melanjutkan sekolah untuk menjadi guru bantu. Cerita kemudian melebar sampai ke anak cucu sang priyayi dengan segala konflik hidup yang dialami. Tidak selamanya hidup priyayi yang terhormat itu penuh dengan kehormatan. Diceritakan pula di sini, bagaimana kelakuan salah satu keponakan Sastrodarsono yang sangat bertolak belakang dengan kehormatan seorang manusia.

Setelah melewati jaman Jepang dan Indonesia menjadi merdeka, anak-anak Sastrodarsono melanjutkan karir sebagai pegawai negeri (pegawai pemerintah). Sayangnya cucu-cucu yang diharapkan dapat meneruskan kehormatan sebagai priyayi terjebak dalam kehidupan yang kurang terhormat. Justru yang menjadi penyelamat keluarga besar adalah seorang anak pungut yang lahir dari hubungan di luar perkawinan salah seorang keponakan Sastrodarsono. Anak yang dipandang sebelah mata, pada akhirnya menjadi harapan dan gantungan untuk membantu mendapatkanĀ  kembali kehormatan yang sempat ternoda.

Setelah membaca novel ini, ada pelajaran penting dalam hidup bahwa kehormatan diri itu bukan karena status, tetapi karena memang seseorang layak dan pantas dihormati. Entah itu karena sikap dan tingkah lakunya atau karena hal yang berhubungan dengan kehidupannya.

See you in the next post

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s